Kalderisasi by Muhammad Akmal

Muhammad Akmal

6 September 2020

“Jadikan hidup Anda terbakar, carilah mereka yang mengipasi apimu.”

Sebagai pelajar di Negeri Belanda tidak bisa dipungkiri masing-masing kita mempunyai setumpuk segudang aktivitas yang menyibukkan. Lingkungan baru di sini memang membuka kesempatan untuk mengenal orang dari berbagai macam latar belakang dan menjalin pertemanan lintas kultur. Selain itu, tuntutan untuk menyelesaikan studi secara tepat waktu dengan nilai yang baik memang idealnya menjadi prioritas utama sehingga sisa waktu luang yang tersedia biasanya dihabiskan untuk beristirahat dan bersantai sejenak.

Di tengah padatnya aktivitas yang kita miliki di sini, tentu akan memunculkan pertanyaan retoris yaitu masih adakah waktu untuk berorganisasi? Banyak dari kita akan mengelak untuk terlibat di organisasi pelajar karena berbagai macam alasan yang tentu dapat dipahami. Keikutsertaan di sebuah dalam organisasi memang merupakan suatu hal yang bersifat sukarela, namun banyak kesempatan pengembangan diri melalui kaderisasi yang kita lewatkan apabila tidak pernah aktif menjadi bagian suatu organisasi. Salah satu hal yang ingin saya angkat dalam tulisan ini adalah bagaimana pudarnya budaya kaderisasi di kalangan pelajar Indonesia di Belanda.

Merujuk pada KBBI, kader mempunyai arti “orang yang diharapkan akan memegang peran yang penting dalam pemerintahan, partai, dan sebagainya.” Setiap organisasi yang tidak memfasilitasi proses kaderisasi dan regenerasi seperti sedang duduk di atas bom waktu menunggu surutnya sepak terjang suatu organisasi dikarenakan habisnya kader yang dapat melanjutkan berlangsungnya organisasi tersebut. Namun, kaderirasi bukan merupakan proses satu arah melainkan membutuhkan hubungan timbal balik antara senior dengan junior. Dibutuhkan kesediaan dari sosok ‘abang’ untuk membagi ilmu dan pengalaman kepada para ‘adik’ yang membutuhkan arahan dan bimbingan.

Konsep abang-adik yang ingin saya usung melaui tulisan ini bukan senioritas buta berdasarkan umur atau angkatan namun lebih kepada keinginan mencari inspirasi maupun nasihat dari saudara seperantauan yang mempunyai relatif lebih banyak pengalaman. Senioritas tentunya tidak dapat serta merta dipandang sebagai fenomena yang bersifat negatif dan selalu erat dikaitkan sebagai salah satu penyebab perundungan. Jika senioritas diimplementasikan dengan tujuan yang baik melalui budaya kaderisasi untuk membangun relasi yang saling mengayomi maka akan menghasilkan hubungan senior-junior yang berkesinambungan dan bermanfaat bagi proses pengembangan diri.

Saat pertama kali saya datang ke Belanda pada tahun 2017, Saya merasa beruntung karena menemukan sosok senior yang berbaik hati mendukung proses pengembangan diri dengan memberikan saya kesempatan untuk mengemban tanggung jawab diiringi masukan dan saran berdasarkan pengalaman abang tersebut. Hubungan abang-adik yang telah kami bangun tetap terjaga hingga hari ini dan memiliki manfaat yang signifikan terhadap perkembangan diri saya.

Mencoba mengaplikasikan budaya kaderisasi dalam konteks sebagai pelajar di Belanda tentu kita tidak dapat menjiplak budaya kader di Indonesia secara mutlak. Keragaman latar belakang pelajar Indonesia di Belanda terutama dalam bidang pendidikan membuka kesempatan yang sangat luas untuk melakukan kaderisasi. Perbedaan tingkat pendidikan lazimnya juga menghasilkan perbedaan umur yang relatif signifikan antara pelajar Indonesia di Belanda, seyogyanya jangan dianggap sebagai suatu yang membedakan hingga mengkotak-kotakkan kita, namun seharusnya dipandang sebagai kesempatan untuk melihat dari berbagai sudut pandang.

Saya teringat pengalaman saya ketika mencoba ‘melamar’ mempersuasi/mewawancarai salah satu pelajar yang sedang menempuh studi master magister yang secara umur lebih tua dari saya untuk bergabung di dalam kepengurusan organisasi. Saya mencoba meyakinkan pelajar tersebut bahwa keikutsertaannya dia dibutuhkan agar menjadi panutan dan agar dapat membantu proses pengembangan diri bagi rekan-rekan sedepartemennya. Jawabannya dia mengejutkan saya karena bukan hanya bersedia berperan menjadi mentor namun tetapi, dia juga menambahkan bahwa “kesempatan ini akan saya gunakan juga untuk belajar dari rekan-rekan yang lebih muda karena sebetulnya saya juga butuh belajar dari mereka.”
Cerita ini sengaja saya sampaikan untuk sekedar mengingatkan bahwa tidak menutup juga kemungkinan bagi pelajar yang lebih senior untuk menuai ilmu dari rekannya yang lebih muda secara umur. Perspektif gelas setengah kosong di mana saat berguru kepada orang lain kita datang dengan bekal ilmu yang dimiliki dan tetap terbuka untuk mendalami ilmu yang dapat dipelajari rasanya tepat untuk diterapkan saat ingin memulai kaderisasi.

Kembali ke Mengingat kembali kutipan Rumi di awal tulisan ini, peran mentor yang menginspirasi untuk keluar dari zona nyaman dan berani mengambil berkomitmen berkomitmen untuk mengambil tanggung jawab yang lebih besar sangatlah krusial bagi proses pengembangan diri seseorang. Proaktivitas dalam meminta masukan dan saran dari orang yang sudah pernah mengemban tanggung jawab tersebut juga dibutuhkan agar kaderisasi dapat berbuah menjadi sesuatu yang bermanfaat.
Mengutip kata-kata bijak “tuntutlah ilmu sejak dari buaian hingga liang lahat”, kiranya tidak ada manusia yang lebih sombong kecuali orang yang berhenti belajar karena merasa ialah yang paling tahu segalanya. Penulis sama sekali tidak ada maksud menggurui maupun memaksakan kehendak pribadi tetapi ingin mengajak kita semua untuk menggiatkan lagi budaya kaderisasi karena masing-masing kita dapat mengambil peran baik sebagai ‘abang’ maupun ‘adik’.

Salam perhimpunan,
Muhammad Akmal