Indonesia's Economic Outlook 2021

PPI Belanda

10/02/2021

Pandemi Covid-19 yang terjadi sejak Maret 2020 banyak menciptakan keresahan di seluruh dunia tak terkecuali di Indonesia.

Pandemi Covid-19 yang terjadi sejak Maret 2020 banyak menciptakan keresahan di seluruh dunia tak terkecuali di Indonesia. Yang membuat Covid-19 semakin menakutkan adalah ketika dampak dari virus ini mulai berkolaborasi dengan pembatasan pergerakan manusia yang berujung pada terpuruknya perekonomian. PHK, penurunan usaha dan pendapatan, macetnya investasi hingga kesulitan mencari pekerjaan bahkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari menempatkan pemerintah dalam dilema antara kesehatan dan perekonomian. Dua hal yang menjadi komponen terpenting dalam kehidupan. Lantas, di tahun yang baru ini, bagaimanakah Indonesia akan menghadapi dilema pada kesehatan publik dan perekonomian yang tengah melanda seluruh dunia?

Rendahnya perekonomian seyogyanya tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi di seluruh dunia. Namun, beberapa indikator-indikator yang ada menunjukkan bahwa perekonomian dunia termasuk Indonesia menunjukkan tanda semakin membaik. International Monetary Fund (IMF) bahkan berani memprediksi bahwa ekonomi di negara-negara maju dapat tumbuh sebesar 5 persen. Negara-negara maju diprediksi akan menjadi trigger membaiknya perekonomian di dunia yang selanjutnya diikuti oleh perekonomian di negara berkembang. Trigger pertumbuhan ekonomi di negara berkembang sendiri adalah Tiongkok yang diprediksi tumbuh sebesar 7,8 persen di tahun ini. Optimisme ini menjadi pertanda baik untuk kita semua meskipun kunci utama dalam proses perbaikan ekonomi adalah kecepatan proses vaksinasi.

Perekonomian Indonesia sendiri sejatinya masih terkontraksi di angka 2,19 persen. Meskipun angka pertumbuhan ini masih negatif, namun angka ini membaik jika dibandingkan pada triwulan saat terjadinya pandemi di mana ekonomi terkontraksi hingga 4 persen. Meskipun secara umum perekonomian memburuk, namun di beberapa wilayah seperti di Sulawesi, Papua dan Maluku, pertumbuhan ekonomi masih positif. Hal ini diprakarsai oleh aktivitas perekonomian yang didominasi oleh sektor pertanian pada wilayah tersebut yang beruntungnya tidak terlalu terdampak secara signifikan oleh pandemi Covid-19.

Ditinjau dari sisi pengeluaran, aktivitas perekonomian Indonesia pada masa pandemi ini dibantu oleh pergerakan konsumsi pemerintah dan ekspor. Konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia turun drastis disebabkan pembatasan mobilisasi dalam rangka menurunkan tingkat penyebaran Covid-19. Oleh sebab itu, pemerintah meningkatkan konsumsi pemerintah dengan beragam stimulus untuk menjaga perekonomian tetap terjaga dan tidak terpuruk terlalu dalam. Ekspor Indonesia juga memainkan peran penting dalam menjaga perekonomian dalam rangka pandemi. Performa dua sektor ini menjadi pertanda baik dan alternatif dalam meningkatkan perekonomian Indonesia agar tidak terlalu bergantung dengan konsumsi rumah tangga.

Optimisme akan ekonomi yang semakin membaik tidak hanya tergambar dalam pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari indikator-indikator lain seperti mobilitas di kota-kota besar yang semakin membaik, indeks ekspetasi penjualan yang menunjukkan mulai adanya kepastian penjualan serta indeks keyakinan konsumen yang menggambarkan konsumen yang mulai memiliki kepercayaan untuk berbelanja. Menguatnya nilai tukar Rupiah, rendahnya inflasi serta normalnya keadaan neraca perdagangan terlepas dari keadaannya yang defisit menjadi pertanda bahwa ekonomi kita bergerak ke arah yang lebih baik. Meskipun demikian, komponen terpenting dalam pemulihan ekonomi adalah vaksinasi Covid-19 yang menjadi prasyarat terpenuhinya indikator-indikator tersebut. Namun, studi Bank Indonesia (BI) menunjukkan bahwa masyarakat menengah ke atas siap menerima vaksinasi bahkan rela membayar jika vaksinasi dikenakan biaya. Ini adalah sentimen yang paling penting yang membuat kita semakin optimis bahwa segalanya akan segera kembali normal.

Tanda akan membaiknya indikator perekonomian Indonesia ini harus disikapi dengan kebijakan dan langkah yang tepat sehingga pemulihan ekonomi dapat berlangsung cepat dan efektif. Untuk merespon hal tersebut, sinergisitas antar BI dengan lembaga-lembaga pemerintah perlu untuk dibangun. Setidaknya, ada tiga poin sinergi yang akan dibangun dalam rangka pemulihan ekonomi ini yaitu, sinergi membangun optimisme, sinergi dengan kebijakan fiskal, dan sinergi dengan kebijakan sektor jasa keuangan.

Sinergi membangun optimisme terkait dengan peran pada masing-masing lembaga dalam menjaga stabilitas perekonomian. BI menjaga stabilitas moneter, Kementrian Keuangan menjaga pertumbuhan ekonomi tetap baik serta OJK dan LPS menjaga stabilitas keuangan. Kunci utama pada respons kebijakan dalam sinergisitas ini adalah stimulus fislal di masa ekonomi mengalami kontraksi diikuti dengan pembukaan sektor produktif dan aman dengan diiringi peningkatan kredit. Kebijakan inilah yang harus dijaga dan dilaksanakan ke depan. Dalam hal ini, BI memiliki peran the last resort atau sebagai alternatif pembeli terakhir SUN/SBSN dan dengan menggunakan harga berdasarkan mekanisme pasar untuk mendukung terjadinya kestabilan pasar. Selain itu, dari sisi moneter BI juga melakukan pembelian Pinjaman Likuiditas Khusus (PLK) kepada Bank sistemik yang mengalami kesulitan serta membeli repo SBN yang dijamin oleh LPS untuk penanganan solvabilitas bank.

Sinergi selanjutnya yaitu sinergi dalam kebijakan fiskal yang terdiri dari tiga bentuk kebijakan utama yaitu extraordinary policy untuk mengatasi Covid-19, reopening policy sebagai komitmen untuk mengatasi Covid-19 dan jump-start ekonomi serta recovery and reform policy sebagai momentum reformasi penguatan fondasi. Pada tahun 2020 yang lalu, extraordinary dan reopening policy sudah dilakukan dengan memberikan banyak stimulus kepada masyarakat, UMKM dan banyak pelaku ekonomi terdampak Covid-19. Oleh sebab itu, pada tahun ini, fokusnya akan lebih kepada akselerasi dan pemulihan ekonomi. Pemberian stimulus terbesar di bidang pendidikan, diikuti dengan infrastruktur dan perlindungan sosial.

Sinergi terakhir yang tidak kalah pentingnya adalah sinergi pada kebijakan sektor jasa keuangan. Sebelas peraturan yang dirilis OJK untuk memitigasi dampak Covid-19 perlu dilakukan dan didukung bersama. Isu yang terpenting dalam sinergi ini adalah ketika aturan relaksasi kredit berakhir dan ekonomi belum sepenuhnya pulih. Hal ini akan menyebabkan keadaan kredit yang sebenarnya akan terlihat. Kredit yang semula lancar dan baik karena adanya relaksasi, akan menunjukkan kondisi sebenarnya yang kemungkinan besar tidak sehat. Hal inilah yang harus dapat diantisipasi bersama. BI sendiri akan menyiapkan stimulus untuk mencoba menyehatkan kredit macet ini. Meskipun demikian, stimulus ini tidak dapat langsung diberikan begitu saja, melainkan perlu adanya identifikasi akan permasalahan kredit pada sisi supply dan demand agar stimulus yang diberikan dapat tepat sasaran.

Bank Indonesia saat ini memfokuskan kebijakan kepada pelonggaran likuiditas dan menjaga suku bunga agar tetap rendah. Arah kebijakan makroprudensial yang akomodatif dipilih sebagai langkah untuk dapat melakukan peningkatan kredit. Tidak hanya itu, BI juga sudah mengeluarkan akselerasi Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia (BSPI) 2025 untuk mendigitalisasi sistem pembayaran di Indonesia. Upaya ini mulai dilakukan dengan melakukan digitalisasi pembayaran dalam ruang lingkup pemerintahan seperti manajemen keuangan pada tingkat pemerintah daerah dan penyaluran bantuan sosial kepada masyarakat. Pengembangan UMKM juga tidak luput dari peran BI. UMKM didorong secara korporatisasi agar dapat mengalami perkembangan menjadi entitas yang lebih besar supaya mendapatkan akomodasi kemudahan pembiayaan. UMKM diharapkan dapat menjadi sumber baru dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Upaya pemulihan ekonomi Indonesia seyogyanya bukanlah upaya yang harus dilakukan oleh BI ataupun pemerintah saja tetapi butuh dukungan dari semua stakeholders terkait. Pengendalian laju penyebaran Covid-19 dan vaksinasi Covid-19 secara merata di Indonesia tentunya akan menjadi game changer sehigga diharapkan dapat menjadi turning point untuk perbaikan perekonomian Indonesia. Dengan demikian, masyarakat kemudian memiliki peran yang juga penting untuk memastikan program vaksinasi pemerintah berjalan dengan baik sehingga dapat menjadi penting dan dominan dalam menormalkan kembali perekonomian. Peran pelajar termasuk pelajar Indonesia yang tengah menimba ilmu di luar negeri. Pelajar diharapkan dapat memperbarui pengetahuan dan keilmuannya, khususnya dalam lingkup ilmu ekonomi, dan membantu mengedukasi masyarakat luas melalui penelitian dan karya-karya yang mendidik lainnya. Apabila semua pihak telah menjalankan perannya dengan baik, tentunya segala bentuk strategi yang dilakukan oleh BI, pemerintah, dan lembaga keuangan lainnya dapat memberikan hasil yang baik dan efektif untuk memperbaiki laju pertumbuhan ekonomi Indonesia. Marilah kita semua dapat bahu-membahu untuk dapat menyebarluaskan stigma positif pergerakan perekonomian Indonesia dan mengikuti anjuran pemerintah sehingga dampak pandemi dapat cepat teratasi dan situasi dapat mulai berangsur pulih.