Adakah Batas di Negara Liberal Nomor Satu di Dunia?

Samantha Alice - Department Kastraat PPI Belanda

23 Mei 2021

Kemungkinan besar terdapat 2 karakteristik orang saat memutuskan untuk datang, entah untuk studi lebih lanjut ataupun bekerja, ke Belanda.

Karakteristik orang pertama adalah orang yang sangat menanti-nantikan kepergian ke Belanda sehingga mereka dapat dengan segera mengekspresikan diri ke dalam masyarakat tanpa batasan yang mungkin mereka alami selama di Indonesia. Sementara karakteristik orang kedua ialah orang yang merasa waswas dan kewalahan akan kebebasan yang ditawarkan negeri kincir angin ini sehingga mereka takut akan godaan yang mungkin akan terlihat lumrah dalam lingkungan masyarakat seperti itu. Akan tetapi, benarkah seseorang dapat hidup sebebas-bebasnya bahkan dalam negara liberal sekalipun?

Pertama-tama, ada baiknya apabila kita terlebih dahulu melihat bagaimana seseorang dapat mendefinisikan kebebasan. Tentunya, konsep ini sudah digumulkan oleh para pemikir dari zaman lampau. Aristotheles dari zaman Yunani kuno contohnya. Ia berpendapat bahwa manusia hanya mungkin menyandang satu status, menjadi tuan atau budak. Kalau Anda tuan, artinya Anda bebas karena Anda memiliki kuasa atas hidup saya bahkan hidup orang lain yang menjadi budak saya. Saya bebas menikmati hidup. Sebaliknya, sayang sekali jika Anda adalah seorang budak, karena, ya, Anda hanya hidup untuk menyenangkan tuanmu dan harus bekerja seumur hidup di bawah otoritas tuanmu. Mungkin konsepsi ini terdengar usang karena Anda mungkin berpikir, “Bukankah perbudakan sudah dihapuskan?” “Ah, sudah tidak relevan dengan zaman post- modern yang menjunjung tinggi HAM, apalagi di Belanda!” Tetapi, apakah Anda sadar bahwa pemikiran ini sebetulnya banyak memengaruhi konsepsi kebebasan yang kita kenal? Seringkali orang berpikir bahwa kebebasan adalah to do and be whatever you want. Bukankah ini cerminan dari konsep bebas ala seorang tuan dalam pemikiran Aristotheles? Kemudian, yang lebih mengkhawatirkan, jika seseorang menghidupi konsep bebas seperti ini, apa dampaknya pada kehidupan pribadinya dan kehidupannya saat berelasi dengan orang lain? Tentunya orang seperti ini akan menjadi liar karena merasa tidak memiliki kewajiban untuk mengendalikan dirinya dengan dalih kebebasan yang ia miliki. Sama sekali tidak ada rasa tanggung jawab karena kebebasan yang dimiliki membuat diri merasa di atas awan. Lama kelamaan, orang ini akan menjadi pribadi yang rusak karena ia menjalani hidup secara serampangan.

Lalu, adakah alternatif lain untuk dapat memberikan pengertian konsep kebebasan? Seorang pemikir lainnya, yang muncul pada abad ke-18, jauh setelah zaman Yunani Kuno, menawarkan perspektif lain terhadap kebebasan. Ialah Immanuel Kant, yang berpendapat bahwa freedom is
not what you can do or what you want to do; freedom is the power you have when you can reject what you do not want to do. Sekarang, apakah kita pernah mengenal konsep kebebasan seperti ini dan bagaimana aplikasinya dalam hidup sehari-hari? Seseorang yang menghidupi kebebasan yang seperti in tentunya memiliki tanggung jawab dan kontrol dalam mengambil setiap tindakan dalam hidupnya. Bagaimana tidak? Ia mencamkan kepada dirinya bahwa terdapat suatu garis batas yang tidak dapat ia lalui dalam mengambil keputusan. Artinya apa? Secara sadar ia tidak segan-segan untuk membatasi dirinya sendiri dari perilaku yang tidak ia inginkan. Mungkin Anda akan berpikir, “Wah, itu berarti orang itu tidak bebas sepenuhnya, dong. Lihat saja dia menerapkan limitasi dalam hidupnya!” Namun, apakah benar dalam kehidupan nyata, kita tidak hidup di bawah limitasi? Coba saja kita lihat ikan yang memiliki habitat natural di air. Apakah ikan tersebut bisa disebut bebas? Tentu saja, selama ia tetap tinggal di air. Apa yang terjadi jika ia melawan naturnya karena merasa bebas lalu berenang ke daratan? Anda sepertinya sudah tahu jawabannya bukan? Ikan itu akan mati, sekalipun ikan itu adalah ikan salmon yang mampu melawan arus sedemikian rupa, tetap akan mati apabila ia coba-coba untuk naik ke permukaan. Mungkin Anda juga berpikir, “Ah itu kan hukum alam, coba memangnya ada contoh lain selain menggunakan hukum alam?” Bisa kita lihat pada pemain band atau pemain orkestra. Sebelumnya pasti sudah ada aransemen di mana setiap anggota band berlatih, tidak jarang mereka diberikan komposisi yang sangat ketat dan rapi dan diharuskan untuk mengikutinya. Lalu, apa yang terjadi dalam penampilan aslinya? Justru dengan tampil sesuai dengan komposisi membuat anggota band menjadi terbebas walaupun mereka harus mengikuti komposisi yang tertulis dan tidak bisa keluar dari itu sekalipun juga mereka ada di bawah arahan vokalis band atau conductor.

Kemudian, jika kita kembali dalam konteks Belanda sebagai negara liberal, dapat kita pertanyakan, “Liberal dari mananya?” Oh ya karena Belanda sangat maju dalam memberikan tawaran-tawaran kebebasan hidup. Contohnya dengan memberikan tawaran untuk melegalkan pernikahan sesama jenis, kebebasan untuk menggunakan marijuana untuk penggunaan rekreasional, layanan prostitusi, aborsi, dan konten pornografi yang mudah diakses, serta pilihan untuk euthanasia. Namun, apakah itu berarti kita dapat menjalankan hidup di Belanda semau kita sesuai dengan kehendak impulsif kita? Ada baiknya apabila kita mencoba untuk membayangkan skenario di mana semua orang dapat melakukan hasrat keinginan mereka masing-masing. Apa yang akan terjadi? Kemungkinan paling besar, masyarakat akan hancur dengan sendirinya karena setiap orang merasa berhak bertindak sesuka hati sesuai dengan apa yang dianggapnya “pantas untuk dilakukan”. Dan apakah hidup di tengah masyarakat yang seperti ini dapat

menjanjikan hidup yang tenteram dan sejahtera? Mungkin juga tidak. Tetapi mengapa Belanda dapat menjanjikan kesejahteraan bagi masyarakatnya sementara tetap memberikan pelbagai pilihan dan kemudahan dalam hidup masing-masing individu? Tentunya, kebebasan pilihan harus dibarengi dengan sebuah keteraturan juga. Ini menyebabkan Belanda memiliki aturan-aturan yang ketat dan dibarengi pula dengan penegakan hukum yang juga adil dan kuat. Maka dari itu, negeri Kincir Angin betul-betul memberikan penghargaan kepada harkat manusia tetapi manusia itu sendiri harus mawas diri dengan bertanggung jawab penuh terhadap tindakan dan pilihan- pilihan hidup yang mereka kerjakan. Itu sebabnya, walaupun berada di negara yang “super liberal” kita tak dapat hidup secara betul-betul bebas karena negara harus menegakkan hukum apabila tindakan masyarakatnya mengancam hak dan keberadaan orang lain. Dan kebebasan itu datang bersamaan dengan konsekuensi yang harus ditanggung daripada setiap pilihan yang kita jalani. Ini berarti, pemerintahan yang “liberal” memercayakan sebuah tanggung jawab kepada rakyatnya untuk dapat menjadi manusia yang holistik karena kebebasan pilihan itu juga harus diikuti dengan pertimbangan setelah melakukan pilihan tersebut, bukan hanya memilih dan melakukna pilihan tersebut. Pada akhirnya, melakukan pilihan dan mengambil keputusan adalah pekerjaan yang pasti dihadapi oleh setiap orang yang memiliki akal sehat. Pemerintah yang bijak pun harus memastikan agar warga negaranya mendapatkan haknya dan juga tetap memastikan keteraturan dalam hidup. Pertanyaannya, sudahkah kita menjalankan hidup kita dengan penuh tanggung jawab agar memiliki hidup yang harmonis dan teratur? Sudahkah kita mengerti ekstensi dan konsekuensi dan kebebasan yang kita kerjakan?